Kamis, 05 November 2015

MELINGKARLAH! LINGKARILAH YANG MAJU, KELILINGI YANG RAGU!!!




(Sebuah Solidaritas dan Salam Perkenalan
Untuk kawan-kawan Lingkar Mahasiswa Kerakyatan – Mamuju)

Sekilas Situasi Nasional
Sistem ekonomi politik neoliberalisme, paska 1998, ternyata berbalik arah dari ekspektasi gerakan mahasiswa saat menjatuhkan rezim dictator militeristik, Soeharto. Gerakan mahasiswa saat itu terkesan fokus pada senjata dan anti demokrasi ala orde baru. Sehingga euforia akan hadirnya demokrasi yang sejati membuat gerakan mahasiswa cenderung lupa bahwa selama 32 tahun Soeharto sukses menghidupkan watak-watak anti demokrasi, KKN, dan borjuisme di dalam pemerintahan, serta yang terpenting menyuburkan aliran investasi modal asing dan swasta berikut kekuatan militer Tentara dan polisi di seluruh Indonesia.

Federasi Mahasiswa Kerakyatan: Alat Persatuan Perlawanan Mahasiswa

 Oleh: Accunk Nebbo
Apa Itu Federasi Mahasiswa Kerakyatan

Federasi Mahasiswa kerakyatan adalah Organisasi Perjuangan Mahasiswa yang bergerak, belajar dan berjuang tentang persoalan kerakyatan. Berangkat dari situasi objektif kemunduran gerakan mahasiswa pasca 1998, ide untuk membangun Federasi Mahasiswa adalah memasuki babak baru upaya membangkitkan kembali gerakan mahasiswa. Dalam situasi ekonomi politik yang anti rakyat ini, menggerakkan kaum pemuda terdidik terlibat dalam merespon persoalan persoalan rakyat. Federasi adalah sebuah gabungan organisasi/komunitas dengan sistem dimana organisasi yang ada bekerja sama dan membentuk kesatuan gerak dengan sebuah landasan/platform yang ditentukan kemudian. Dengan kata lain sistem yang ada di Federasi tidaklah meleburkan organisasi yang ada didalamnya (Non Unitaris).

Senin, 18 Mei 2015

Refleksi 17 Tahun Reformasi: Melawan Politik Orde Baru!


Rezim militer Suharto (orde baru) memiliki konsep “massa mengambang”, hal ini berarti  dijauhkannya rakyat dari aktivitas politik. Keterlibatan aktif rakyat dalam berpolitik, berpartai, berorganisasi, berdemonstrasi, rapat-rapat akbar,  dan mogok dihancurkan oleh rezim militer Suharto, sebab hal ini bertentangan dengan konsep massa mengambang. Disisi lain konsep politik massa mengambang memuluskan menguatnya kekuatan imprealis dan masuknya modal asing sebab segala penentuan kebijakan sepenuhnya milik rezim militer Suharto.

Adanya akumulasi kemarahan atas penindasan dan tekanan yang dilakukan oleh rezim militer Suharto di tambah lagi krisis ekonomi yang menyebabkan rakyat semakin sengsara. Ini menyebabkan perjuangan rakyat mencapai puncak kemarahannya untuk menggulingkan rezim Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Dengan pernyataan mundurnya Soeharto jadi presiden menandakan babak baru dalam dunia ekonomi politik Indonesia. Bagaimana itu bisa terjadi ?

Kamis, 14 Mei 2015

SERUAN NASIONAL PERINGATAN 21 MEI 1998

 MOMENTUM HARI KEJATUHAN SOEHARTO: TUNTASKAN PERJUANGAN DEMOKRASI 1998

Gerakan 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat pro-demokrasi pada akhir dasawarsa 1990-an. Gerakan ini berhasil memaksa Soeharto  turun dari jabatannya sebagai Presiden pada tangal 21 mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa sejak Pembantaian massal rakyat indonesia 1965  hingga tahun 1998. Gerakan 98 merupakan tonggak pembukaan ruang demokrasi yang selama 32 tahun tidak ada kebebasan sama sekali mulai dari kampus hingga di  lingkungan sosial masyarakat secara umum.

Namun perjuangan Demokrasi 98 sesungguhnya belum tuntas, soeharto memang telah tiada tapi politik orde baru masih berdiri kokoh hingga saat ini. Demiliterisasi (berhentinya proses militerisasi) merupakan salah satu yang diperjuangkan oleh gerakan 98 belum lagi tercapai.  Kalau Soeharto dulu merangkul militer menjadi tulang punggung utama dipemerintahannya, kini pemerintahan jokowi juga demikian. Mereka ini, sisa-sisa Orde Baru terus-menerus melakukan manuver politik  agar dosa-dosa mereka tidak pernah terbongkar dan bisa mempertahankan status quo. Akibatnya, agenda-agenda perjuangan 98 seperti demiliterisasi, pemberantasan KKN dst dst, terus terganjal.

Selasa, 12 Mei 2015

Peringati Trisakti, Mahasiswa Jogja Tuntut Pendidikan Gratis!



Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta hari ini (12/05) memperingati tragedi Trisakti yang terjadi 17 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1998 saat mahasiswa dan rakyat hendak menggulingkan rezim otoriter Soehart. Peristiwa ini menyebabkan beberapa mahasiswa Trisakti meninggal karena ditembaki aparat militer. Peringatan ini digelar dalam bentuk aksi massa di kampus UIN dan pertigaaan UIN Sunan Kalijaga. Aksi yang digelar kali ini, Cakrawala beraliansi dengan kawan-kawan organisasi mahasiswa diantaranya FAM-J, PMII, FMPR, SMI, Perempuan Mahardhika dan LMND dengan nama aliansi Refleksi Tragedi Trisakti.

Aksi yang di mulai pukul 14.00 mengangkat tema “Tolak Kapitalisasi Pendidikan, Bangun Persatuan Mahasiswa Berkarakter Kerakyatan”. Menurut koordinator lapangan kawan Ali Akbar Muhammad, isu yang diangkat soal pendidikan di Indonesia. Menurutnya pendidikan di Indonesia sangat mahal dan tidak dapat diakses oleh rakyat miskin.  “Saat ini pendidikan telah dilempar ke pasar, salah satu bentuknya adalah Uang Kuliah Tunggal (UKT), inilah bukti nyata negara melepaskan tanggungjawabnya dalam pembiayaan pendidikan” kata kawan yang sering dipanggil Ali ini.