Selasa, 10 Maret 2015

Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Untuk Perempuan (AMUP)

“BANGUN PERGERAKAN PEREMPUAN MELAWAN KAPITALISME, PATRIARKI DAN POLITIK NEO ORDE BARU
WUJUDKAN KESETARAAN, KESEJAHTERAAN DAN KEDAULATAN UNTUK RAKYAT”

(Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta, FBLP, Social Movement Institute, Perempuan Mahardhika)


International Womens Day (IWD) atau Hari Perempuan Se Dunia diperingati setiap tanggal 8 Maret. Peringatan momentum ini memiliki sejarah yang panjang. Di awal abad 20, perempuan terus menuntut hak-hak politik, hak kondisi kerja di pabrik, jam kerja yang terlalu panjang, menghentikan pekerja dibawah umur dan perbudakan terhadap ras kulit hitam. Salah satu kemenangan yang dicapai adalah berlakunya 8 jam kerja dan penghentian mempekerjakan anak dibawah umur. Pada tahun 1910, konferensi Internasional Perempuan Pekerja digelar di Copenhagen, Denmark. Melibatkan 100 perempuan dari 17 negara. Clara Zetkin, perempuan sosialis asal Jerman mengusulkan agar seluruh negara memperingati hari perempuan se dunia pada tanggal yang sama. Tujuannya untuk memperkuat dan menyatukan kekuatan dalam menuntut hak-hak perempuan. Akhirnya, tanggal 8 Maret dipilih sebagai hari Perempuan Se Dunia.

Sabtu, 07 Maret 2015

Surat Untuk Ibu Di Hari Perempuan Se Dunia

(Bagian II)

Oleh: Tinta Merah

Embun terhisap mentari
Ia tak menyesal apalagi iri
Karena senja membawa hidup kembali
Lalu fajar membuka pagi

Tapi perempuan bukan embun
Jika dihisap harus merumpun
Kemarahan harus dihimpun
Agar penindas minta ampun!!!
***

Aku lupa menanyakan kekasihmu. Apa kabar dia? Aduhai. Kalian pasangan yang membuatku sering iri. Setiap mentari mulai mendayung lalu melabuh di pundak senja, kekasihmu, sang petani itu, mulai menuruni hamparan bukit cengkeh. Ketika sekarung pala di banting dari pundaknya, Ia tak bertanya di mana secangkir teh panas, namun yang dicari kehangatan pelukmu semata. Ah, Ibuku sayang. Engkau telah berhasil menemukan jarum di dalam gubuk jerami. Kekasihmu adalah seorang lelaki manis di antara jutaan lelaki sadis.

Rabu, 04 Maret 2015

Surat Untuk Ibu Di Hari Perempuan Se-Dunia

(Bagian I)
Oleh : Tinta Merah


Bak air mendidih meluap emosi
Tarian Tinta menyobek kertas relung
Amarahku tak tertakar
Tak  terkapar
Sebab hangatnya pelukmu satu-satunya penawar
Namun harga jarak tak bisa ditawar!

Seperti biasa, kutumpahkan
Kesal yang mengepal
Di atas lembaran tanpa sesal

***

Ibu...
Apa kabarmu?
Sehatkah kau di sana?
Ah, patutnya aku tak bertanya lagi. Sebab tentu kau tak sedang baik-baik saja. Bagaimana bisa kau sehat jika di saat para penguasa dan orang kaya tidur nyenyak di Pukul 01.00 dini hari, saat itu pula kau terpaksa harus bangun. Menyiapkan dagangan, menyapa fajar dalam ayunan langkah kaki, menelusuri gang-gang, lorong-lorong kampung demi kampung. Mendagangkan setitik harapan yang tak diharap para penguasa.

Minggu, 01 Maret 2015

SOLIDARITAS UNTUK WARGA GANE SERUKAN USIR KORPORASI SAWIT PT. KORINDO DAN LAWAN POLITIK PERAMPASAN TANAH!


Poster Aksi Budaya
Yogyakarta – Bertepatan malam minggu, Sabtu 28 Februari 2015, sekitar pukul 19.00, Alun-alun Kidul Yogyakarta mulai dipenuhi oleh muda-mudi dan warga lainnya yang sekedar datang mencari hiburan di tempat pariwisata tersebut. Hanya saja ada yang beda pada malam minggu kemarin, Alkid menjadi ramai oleh puluhan muda-mudi yang membuat lingkaran tepat di utara lapangan. Semakin membuat penasaran, karena lingkaran yang tadinya hanya puluhan tak lama menjadi kerumunan yang jumlahnya bisa ratusan. Bagaimana tidak, kermununan tersebut menyita seluruh perhatian warga yogyakarta yang tengah mencari hiburan di Alkid dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional Tifa, Gong dan pementasan teater, tari-tarian serta permainan daerah.

Ya, tepat. Aksi budaya. Aksi budaya yang tak lazim seperti biasanya dilakukan oleh pemda Yogyakarta. Menurut Aby, salah satu Humas dari Solidaritas Untuk Masyarakat Gane mengatakan aksi budaya yang digelar kelompoknya adalah untuk memberikan solidaritas kepada masyarakat Gane yang sedang melawan politik perampasan tanah oleh perusahaan sawit PT. Korindo dan pemda setempat. Ia lalu menjelaskan tentang situasi Gane. Menurutnya, Gane, sebuah daerah di Halmahera Selatan, Maluku Utara saat ini semakin mencekam. Negara dan korporasi sawit PT. Korindo milik Korea terus melakukan penggusuran hutan dan lahan garapan warga untuk kepentingan perluasan persemaian bibit sawit. Petani Gane tiap hari ke kebun tidak hanya membawa parang dan dayung, tapi juga membawa

Selasa, 10 Februari 2015

CAKRAWALA MAHASISWA YOGYAKARTA MELAWAN 50 TAHUN POLITIK ORDE BARU


Rabu, 04 Februari 2015, Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta, menggelar aksi di depan UGM tepatnya Bundaran UGM. Aksi ini mengangkat tema “Melawan Politik Orde Baru”. Isu ini tentu membuat banyak kalangan bertanya-tanya kenapa harus Orde Baru, padahal orde baru yang dipimpin oleh Soeharto telah ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa pada tahun 1998.

Menurut Koordinator Lapangan, Ruslan Hamlan, Orde Baru baru memang sudah tidak ada setelah lengsernya Soeharto, namun Politik atau corak Orde Baru masih dipakai dan menjadi darah daging dalam pemerintahan elit borjuis nasional di Indonesia sekarang. “Soeharto boleh sudah mati, tapi tidak dengan politik orde baru. Bini bisa kita buktikan, rakyat yang melawan masih dibungkam dan ditumpas dengan militerisme, lihat saja rakyat rembang, buruh di bekasi dan jakarta yang direpresi saat menuntut