(Bagian
I)
Oleh :
Tinta Merah
Bak air mendidih meluap emosi
Tarian Tinta menyobek kertas relung
Amarahku tak tertakar
Tak
terkapar
Sebab hangatnya pelukmu satu-satunya penawar
Namun harga jarak tak bisa ditawar!
Seperti biasa, kutumpahkan
Kesal yang mengepal
Di atas lembaran tanpa sesal
***
Ibu...
Apa kabarmu?
Sehatkah kau di sana?
Ah, patutnya aku
tak bertanya lagi. Sebab tentu kau tak sedang baik-baik saja. Bagaimana bisa
kau sehat jika di saat para penguasa dan orang kaya tidur nyenyak di Pukul 01.00
dini hari, saat itu pula kau terpaksa harus bangun. Menyiapkan dagangan,
menyapa fajar dalam ayunan langkah kaki, menelusuri gang-gang, lorong-lorong
kampung demi kampung. Mendagangkan setitik harapan yang tak diharap para penguasa.