Kamis, 19 September 2019

AKSI SOLIDARITAS DEMOKRASI UNTUK RAKYAT YOGYAKARTA




Rabbu 18 September 2019 Puluhan kaum muda di Yogyakarta melakukan aksi di Tugu Yogyakarta, aksi di mulai pada 15.00 WIB dengan Tema Kebebasan Berserikat adalah Hak Asasi Hentikan Kriminalisasi Aktifis Bebaskan Tanpa Syarat .

Aksi solidaritasi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap rezim Jokowi-JK yang telah melakukan pembungkaman ruang demokrasi dan kriminalisasi terhadap aktifis pro demokrasi yang menyuarakan terkait persoalan kolonialisme dan rasisme terhadap rakyat papua.

Raihan, Kordinator Umum aksi, yang di temui setelah aksi menyampaikan bahwa “tujuan dari aksi ini untuk merespon upaya kriminalisasi yang dilakukan oleh negara terhadap  rakyat papua dan aktifis pro demokrasi –hak asasi manusia yang menolak segala bentuk diskriminasi rasial, etnis maupun penjajahan yang dilakukan oleh NKRI terhadap bangsa West Papua. Indonesia lewat aparat Kepolisian melakukan tindakan represif, penangkapan secara paksa terhadap aktifis, Surya Anta, Veronika Konam, dll. Maka harapan saya ditengah situasi demokrasi yang semakin dibungkam, menjadi kebutuhan mendesak elemen-elemen masyarakat sipil serta gerakan pro demokrasi harus membangun gerakan yang benar-benar massif untuk terus memperjuang kebebasan berdemokrasi yang sampai hari ini masih terus dibelenggu oleh oligarki politik dan oligarki bisnis dalam memanfaatkan pemerintah untuk menguasai seluruh sumber daya alam di Indonesia maupun Papua”

Aksi ini bukan hanya kaum muda tapi juga hadir seorang Dosen UGM yang dating untuk memberikan solidaritas, sebut saja Pipin dalam orasinya dia menyapaikan “ Bahwa apa yang kami ajarkan dikampus bahwa perjuangan untuk menyampaikan kebenaran dijamin dalam Negara Demokrasi namun apa yang dilakukan oleh Rezim Jokowi-JK dengan menangkap berbagai aktifi pro demokrasi merupakan sebuah tindakan yang sangat anti demokrasi”


Dalam aksi tersebut masa aksi pun menyayikan yel – yel , “Di Papua ditangkap di Indonesia ditangkap dimana-mana rakyat ditangkap 2x, ayo lawan dan bebaskan 2x kawan”, “Demokrasi hasil perjuangan siapa? Rakyat 2x, bukan milik penguasa bukan milik pemodal tapi milik rakyat tertindas”

Massa aksi juga membawa berbagai poster-poster tuntutan, segera bebaskan kawan kami tanpa syarat yang membuat aksi semakin menarik, selain itu aksi ini juga mendapat sorotan dari warga Yogyakarta dengan mengambil selebaran yang dibagi-bagikan oleh masa aksi.

Reportase
Bintang Utara
(Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta)


Selasa, 20 Agustus 2019

Manifestasi tuhan ku, Ayah, Ibu


 

Hari berganti hari, waktu berganti waktu, mengajaku mengulas tanya demi tanya!

Mengapa kaki kau yang harus lemah saat kakiku mulai tegap menginjaki bumi?

Mengapa tangan kau yang harus lesu saat jari jemariku mulai erat menggenggam harapan?

Mengapa harus langkah kau yang lambat saat aku mulai mencoba tuk berlari melintasi semsesta?

Oowh, kapan lagi ku melihat lincahnya gerak kau saat aku kau pangku  dan kau genggam penuh kasih!

 

Engkau menjadi atap saat ganasnya panas mentari  yg tak kenal rupa, menghanguskan dinding dinding buana.

Engkau bagai percikan nur rembulan penerang malamku saat swastamita meranjak pergi sore ini

Kini kaupun menua saat aku telah  diajari melawan derasnya arus waktu

Kini kaupun menua saat aku kau bentengi dari serangan fajar hitam yng mengancam

Kini kaupun menua

Menua saat asupan darah dagingku kau cukupkan

 

Aku adalah debu tanpa tulusnya deritamu penuh kasih

Aku adalah mata air yang mengering tanpa derasnya cucuran keringatmu

Aku adalah tulang benulang tak berjiwa  tanpa tetesan sakralnya air susumu Kini kaupun menua

 

Muhammad Yapon

(Yogjakarta, 19 Agustus 2019)

Neneku Seorang Pelaut



Nusantaraku kemana mana

Madagasgar katanya?

Kebun kembang wangin alam

 

Maritim kata kau?

Pulau samudera indah?

Orang orang membuat kapal dari sini hingga Afrika

 

Wahai maritim

Hay madagasgar

Engkaulah guru seluruh dunia

Engkau ada di tanah ini

 

Nusatara ? Apa Indonesia?

Ha ha ha maritime kata kau

Madagasgar katanya

 

Kasihku iya sekarang seperti lilin

Gunung api yang lama mati

Seperti lilin dibakari

 


Air yang dimasaki

Profit yang dieskploitasi

Selangkangan yang dihisapi

Seperti semesta yang di kapitalisasi

 

Kekasihku !

Aku ingin menemukan rumah perdamaian

Aku ingin bersama kau dalam damai kasih dan cinta

Tapi kini hilang sirna


Haji Limbong

Yogyakarta 19 Agustus 2019

 

Sabtu, 03 Agustus 2019

Kaum Muda Berogranisasi Belajar dan Berjuang Bersama Rakyat

Cakrawala Mahasiswa JOGJA
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.” Pramoedya Anata Toer
Haii Haii !!! ðŸ‘‹ Apa kabar bro/sis/cin/say? ðŸ¤—
Bosen ga sih setiap hari kuliah, dan diperhadapkan dengan mata kuliah yang tidak menyentuh persoalan rakyat. Apalagi dosen yang selalu saja menganggap diri paling benar, bukankah kaum muda butuh kebebasan, masikah kita hanya menjadi mahasiswa yang kupu-kupu(kuliah pulang- kiuliah pulang), mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-rapat), ya elah apalagi kampus yang selalu membatasi mahasiswa untuk merokok, berpakaian bebas, bahkan kita sebagai mahasiswa tidak bisa menetukan kebijakan kampus padahal mahasiswalah sumber keuangan kampus bukan? Ya pasti kita semua bosen.
Belum lagi biaya kuliah yang setiap tahunnya semakin mahal, tapi kita mahasiswa dipaksa untuk lulus dengan cepat, dengan IP 3.00 di paksa harus membuat tugas setiap hari, apakah pendidikan hanya mengajarkan kita untuk menjadi robot? Tidak pendidikan sejatinya adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan. Pendidikan harusnya memanusiakan manusia, tetapi apa yang terjadi mahasiswa hanya diarahkan lewat kurikulum yang tidak ilmiah untuk menjadi buruh-buruh murah dan tidak ada jaminan lapangan pekerjaan, ekspektasi kuliah untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik hanyalah bayang-bayang yang sangat menakutkan. Negara melepaskan tanggung jawabnya dari pendidikan, orang tua kita dipaksa untuk menanggung beban tersebut namun di lain sisi, politik upah murah terus dimasifkan, tidak ada kepastian lapangan pekerjaan, penggusuran tanah semakin massif, sumber daya alam yang seharusnya bisa mensejahterakan rakyat, kini hanya dikuasai segelintir orang.
Lantas apa yang harus kita perbuat?
Saat ospek berkumandang diseluruh kampus mahasiswa disuguhkan dengan kata-kata motivasi bahwa “Mahasiswa adalah agen perubahan” namun pada kenyataan mahasiswa hanya menjadi barang dagangan dan kampus menjadi seperti perusahaan yang siap memproduksi barang-barang murah yang siap dilemparkan ke pasar neoliberalisme.
Namun situasi ini tidak bisa dibiarkan karena sejarah telah mencatat bahwa kaum muda mengambil peran penting dalam perubahan sejarah artinya bahwa situasi tersebut bisa di rubah, asalkan mahasiswa berani keluar dari tembok-tembok kampus yang memenjarakan pemikiran kritis dengan mencari sekolah-sekolah alternatif yang mampu membukan Cakrawala Mahasiswa agar mampu merubah keadaan yang ada.
Untuk itu kami Cakrawala Mahasiswa JOGJA mengajak kawan-kawan untuk terlibat dalam Sekolah Mikir VII (Militan dan Kritis) yang akan dilakasanakan pada 27-29 sepetember 2019 di Yogyakarta, bagi kawan-kawan yang mau terlibat silahkan menghubungi kontak yang tersedia.

Bagi kaum(Mahasiswa) muda yang ingin terlibat ataupun bergabung, silahkan masukan :
1. Nama :
2. Kampus :
3. Fakultas :
4. Jurusan :
5. TTL :
6. Alasan Terliibat Sekolah Mikir :
7. Hobby :
8. Apa yang ada minati dengan agenda CMY :
A. Aksi
B. Pengorganisiran
C. Diskusi
D. Kreatifitas
E. Pengajar Sanggar Kasih Ibu (Anak)

Info Pendaftaran :
Instagram : corong_kaummuda 
Whassap : 082113944017 ( CMY KOTA)
081342017096 (CMY BABARSARI)
081392532080 (CMY Univ. Almaata)

Kamis, 02 Mei 2019

Pernyataan Sikap KAMRAT (Komite Aksi Mayday Untuk Rakyat)




Pernyataan Sikap KAMRAT (Komite Aksi Mayday untuk Rakyat) mengutuk penghadangan, pemukulan, dan perusakan perlengkapan aksi oleh aparat Kepolisian Resor Kota Yogyakarta terhadap massa aksi KAMRAT  dalam memperingati Hari Buruh Internasional dan 56 Tahun Aneksasi West Papua. Yogyakarta, 1 Mei 2019.

Kebebasan dalam berekspresi dan menyatakan pendapat di Indonesia kembali tercoreng. Rabu, 1 Mei 2019 aliansi KAMRAT Yogyakarta yang hendak melakukan aksi memperingati Hari Buruh Internasional dan 56 Tahun Aneksasi West Papua mendapatkan represi Kepolisian Resor Kota Yogyakarta.

KRONOLOGI LENGKAP





Pukul 07.00 WIB, massa aksi berkumpul di titik kumpul (Asrama Kamasan) mempersiapkan perlengkapan aksi.

Pukul 09.45 WIB, Massa Aksi bersiap, berbaris keluar Kamasan dan berniat melakukan Long March menuju Titik Nol KM Yogyakarta.

Pukul 10.00 WIB, Kapolresta Yogyakarta, Armaini, menghalangi massa aksi yang hendak bergerak ke Titik Nol, dengan alasan ada massa tandingan dari ormas Paksi Katon dan FJR. Kapolres khawatir akan terjadi gesekan, dan bersikeras agar Massa Aksi KAMRAT berpindah lokasi aksi.

Pukul 10.10 WIB, Negosiator, Korlap Aksi dan pendamping hukum dari LBH Yogyakarta melakukan perundingan dengan Kapolres agar Massa Aksi tetap bisa bergerak menuju Titik Nol KM.

Pukul 11.00 WIB, Perundingan berjalan alot dan akhirnya massa aksi berkompromi akan berpindah titik aksi ke Monumen Tugu Jogja, namun hal itu juga tidak diterima oleh pihak kepolisian. Mereka memaksa agar aksi dilakukan di Balaikota Yogyakarta.

Pukul 11.15 WIB, Massa aksi bersepakat untuk membangun barisan lagi dan tetap mencoba bergerak keluar Kamasan, namun massa aksi dihadang, di dorong, lalu dipukuli oleh Sabhara.


Pukul 12.00 WIB, Saling dorong terus terjadi, dan massa aksi berhasil menerobos barikade Sabhara di pagar Kamasan, namun Polisi memblokade jalan Kusumanegara menuju Titik Nol dengan truk polisi. Saksi mata melihat Polisi bernama Armaini juga melakukan perusakan terhadap Ampli mobil komando KAMRAT.

Pukul 12.15 WIB, Saling dorong kembali terjadi dan pemukulan semakin brutal. Polisi mulai menembakan gas air mata sehingga massa aksi berhamburan masuk kembali menuju Asrama.

Pukul 13.00 WIB, Massa aksi mengatur barisan lagi di dalam asrama.
 
Pukul 13.30 WIB, Massa Aksi mencoba keluar lagi, namun kembali massa aksi direpresi dan dipukuli.

14.00 - WIB, Massa aksi tetap melakukan aksi, menyampaikan orasi politik di depan asrama Kamasan.

15.30 WIB, Aksi berakhir dengan membacakan pernyataan sikap.

Korban pemukulan:
1. Jhon Nawipa (21) luka di bibir dan jidat
2. Gasrul (22) ditendang di kemaluan
3. Junior Ireuw (19) Luka di leher
4.Wahyu (20) Dipukul dan dicekik leher
5. Yoseph Sakof (21) Luka di tangan
6. Yulianus degei (21) luka robek di hidung
7. Fabby Pigome (22) Luka di kaki (tulang  kering), dan jidat.
8. Remis Praha 20 Luka di bibir
9. Aris Yeimo 32 Luka di Jidat
10. Imam 21 Luka di Kaki

11. Ali (25) Luka di leher dan pelipis
12. Fatihah (18) Luka di kaki

Kerugian Materil:
1. Ampli Mobil komando dirusak Polisi.

Atas segala tindakan represi aparat kepolisian terhadap massa aksi KAMRAT, maka kami menyatakan sikap:

1. Mengutuk keras segala bentuk tindakan pemberangusan demokrasi yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Kota Yogyakarta beserta seluruh jajarannya.
2. Mengecam penghadangan dan pemukulan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian Resor Kota Yogyakarta
3. Mengecam perusakan terhadap perlengkapan aksi oleh Kapolres Yogyakarta, Armaini.
4. Mengajak seluruh seluruh elemen gerakan demokrasi untuk membangun kekuatan dan merebut kembali demokrasi.


KAMRAT (Komite Aksi Mayday Untuk Rakyat)

Cakrawala Mahasiswa JOGJA
PEMBEBASAN
AMP
PLUSH